Kompos dari Kotoran Sapi

Perternakan sapi adalah penghasil kotoran sapi yang berlimpah, sering kurang dimanfaatkan karena keterbatasan tenaga dan pengetahuan. Padahal bisa diolah menjadi kompos, yang bisa memberi nilai lebih bagi para peternak sapi ini. Tletong sapi yang merupakan produksi utama dari sapi selain bisa digunakan sebagai pupuk kompos, sebagian juga mengembangkannya untuk biogas.

Namun lebih sering keterbatasan yang membuat kotoran atau tletong sapi ini menjadi sia-sia. Sebenarnya proses pembuatan kompos dari kotoran sapi ini bisa dilakukan siapapun, hanya memang perlu tenaga untuk mengolah tletong sapi ini. Tenaga ini memang lebih banyak untuk memindahkan tletong sapi ke tempat pengomposan, dan dilanjutkan dengan proses pengomposan yang sedikit membutuhkan tenaga ekstra. Lain kasusnya bila digunakan untuk biogas, akan lebih cepat proses pengolahannya.

Kendala lain yang menghambat proses pengomposan pada kotoran sapi ini juga seputar penggunaan kompos dari kotoran sapi. Rendahnya daya serap kompos ini juga memicu kurang diminatinya pengomposan dari kotoran sapi. Namun situasi akan beda bila penggunaan kompos semakin dibutuhkan, dan harga pupuk kimia semakin mahal.

Pengomposan dari kotoran sapi bisa dilakukan dengan campuran limbah peternakan atau pertanian yang ada di sekitar tempat tersebut. Bisa dari jerami, batang jagung, rumput kering, daun kering, sampah, daun tebu, hampir semua limbah pertanian bisa digunakan sebgai campuran untuk kompos dari kotoran sapi. Hanya perlu sedikit penyesuaian prosentasi antara kotoran sapi dan limbah pertanian ini.

Menyiapkan kotoran sapi sebagai bahan kompos

Biasanya kadar air kotoran sapi terlalu tinggi bila langsung digunakan untuk pengomposan, maka sedikit dibiarkan akan mengurangi kadar airnya. Namun bila campuran bahan kompos lainnya dalam keadaan kering, maka kotoran sapi bisa langsung digunakan. Cara mengukur kadar air dari kotoran sapi sudah memenuhi untuk pengomposan adalah dengan mencampur dua timba kotoran sapi dan satu timba limbah pertanian, bila diperas tidak keluar air atau setetes air yang keluar, maka kotoran sapi ini sudah bisa digunakan untuk pengomposan.

Intinya dilihat hasil percampuran dari prosentase kotoran sapi dan limbah pertanian, bila kadar airnya cukup, maka sudah bisa digunakan untuk pengomposan. Memang bahan dari limbah pertanian bisa dalam keadaan basah atau kering, namun melihatnya dengan melihat percampuran dari bahan tersebut. Pengetesan bisa dilakukan dengan cara sederhana, tanpa harus menggunakan peralatan yang modern.

Menyiapkan campuran limbah pertanian

Apapun jenis limbah pertanian yang akan digunakan untuk pengomposan, harus dalam keadaan terpotong kecil. Ini untuk mempercepat proses pengomposan, namun bila komponen waktu bukan menjadi halangan, maka limbah pertanian apa adanya bisa langsung digunakan. Biasanya proses pengomposan akan menjadi lebih lama bila limbah untuk campuran pengomposan tidak diolah dulu.

Bila kompos ini nantinya untuk dipakai sendiri, pengolahan campuran limbah pertanian hanya memposisikan tidak terlalu basah. Ini bisa disesuaikan dengan kadar air dari kotoran sapi, jangan sampai campuran ini nantinya terlalu basah atau terlalu kering.

Mencampur kotoran sapi dengan limbah pertanian

Untuk menemukan percampuran yang tepat antara kotoran sapi dan limbah pertanian, maka dua timba kotoran sapi dan satu timba limbah pertanian bisa dicampur dan dicek kadar airnya. Bila diperas hanya mengeluarkan air sedikit, ini adalah takaran kadar air yang tepat. Namun bila kondisi limbah pertanian cukup kering, prosentasenya bisa dinaikan sebagai faktor penyeimbang kadar air yang tepat tadi.

Campuran ini harus diaduk sampai rata, sehingga konturnya akan berbeda dari bentuk asalnya. Campuran antara kotoran sapi dan limbah pertanian ini sudah siap untuk dikomposting, dan harus ditutup dengan plastik atau terpal. Ini untuk proses composting dan menghindari percampuran dengan air hujan atu sinar matahari.

Mengaduk campuran kompos dari kotoran sapi

Campuran tadi diaduk selang tiga sampai 7 hari untuk oksigenasi dan meratakan proses pengomposan. Lalu tutup lagi dengan terpal atau plastik untuk melanjutkan proses pengomposan. Biasanya bau kotoran sapi akan perlahan menghilang seiring berjalannya proses pengomposan.

Setelah tiga sampai empat minggu proses pengomposan sudah mulai terlihat. Ada perubahan kontur dan warna pada campuran kotoran sapi tadi. Baunya akan menghilang, biasanya penyaringan sudah bisa dilakukan, bila kompos tersebut dikemas dalam plastik atau karung. Namun bisa juga langsung digunakan untuk menyuburkan tanah pertanian.   
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »
logo
Copyright © 2013. detipso - All Rights Reserved | Template Created by Infotipso Proudly powered by Blogger